Strategi Pemilihan Capres dan Cawapres Indonesia di Twitter: Kajian Wacana Kritis di Media Sosial

  • Akhmad Humaidi STKIP PGRI BANJARMASIN
Keywords: twitter, wacana kritis, media sosial

Abstract

Media sosial telah menjadi bagian penting dalam peradaban manusia termasuk perjalanan politik di era modern. Media ini memberikan pengaruh yang besar terhadap dinamika politik di berbagai negara, termasuk Indonesia, khususnya ketika masa kampanye baik pemilihan legislatif, kepala daerah, maupun presiden. Tahun 2019, Indonesia melaksanakan perhelatan demokrasi terbesar, yakni pemilihan presiden. Tidak seperti tahun 2014, kali ini media sosial menjadi salah satu sarana penting dalam peta politik di Indonesia. Berkenaan dengan itu, makalah ini berusaha untuk mendeskripsikan perang wacana yang berlangsung di media sosial, khususnya Twitter dengan dua bagian utama, yaitu strategi representasi ideologi politik dan analisis kritis wacana politik di media sosial. Ideologi politisi ditampilkan dengan perang tagar, utas, gambar dan video, bahkan buzzer. Analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Teun van Dijk merupakan kerangka teoretis yang digunakan untuk mendeskripsikan wacana politik. Pembahasannya meliputi topik, superstruktur, semantik lokal, sintaksis, dan retorika.

References

Abubakar, A. A. (2012). Political Participation and Discourse in Social Media during the 2011 Presidential Electioneering By. The Nigerian Journal of Communication, 10 (1), 96–116.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2017). Infografis Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia. (online), (http://apjii.or.id).
Davidson, Donald. (1968). American Composition and Rhetoric. New York: Charles Scribner’s Sons.
Dijk, T. A. van. (1995). What is Political Discourse Analysis. Makalah disajikan pada Congress Political Linguistics. Antwerp, 7-9 Desember 1995. Dalam Jan Blommaert dan Chris Bulcaen (Ed.), Political linguistics (hlm. 11-52). Amsterdam: Benjamins.
Dijk, T. A. van. (1998). Ideology: A Multidisciplinary Approach. Sage Publication.
Gunawan, Budi & Ratmono, Brito Mulyo. (2018). Kebohongan di Dunia Maya: Memahami Teori dan Praktik-Praktiknya di Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Humaidi, Akhmad. (2018). Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Banjarbaru: Scripta Cendekia.
Jones, J., & Wareing, S. (2007). Bahasa dan Politik. In L. Thomas & S. Wareing (Eds.), Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan (pp. 49–77). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lamb, Kate. (23 Juli 2018). ‘I felt disgusted’: inside Indonesia’s fake Twitter accunt factories. The Guardian. (online), (https://theguardian.com).
Lee, K., Oh, W.-Y., & Kim, N. (2013). Social Media for Socially Responsible Firms : Analysis of Fortune 500 ’ s Twitter Profiles and their CSR / CSIR Ratings. J Bus Ethics, 791–806. https://doi.org/10.1007/s10551-013-1961-2.
Persily, N., & Mcclatchy, J. B. (2017). Can Democracy Survive the Internet ? Journal of Democracy, 28(2), 63–76.
Verweij, Peter. (2012). Twitter links between politicians and journalist. Journalism Practice. Vol 6(5-6): 680-691.
Published
2019-12-20
Abstract viewed = 3 times